Categories
Agribisnis

Peternak Masih Harap-harap Cemas

Bisnis sapi perah di Indonesia mengalami stagnasi selama beberapa tahun terakhir. Problemnya cukup klasik, kebutuhan nasional masih jauh belum tercukupi oleh produksi susu segar dalam negeri (SSDN). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, dari total kebutuhan nasional untuk Industri Pengolahan Susu (IPS) yang mencapai 4,5 juta ton selama 2017, produksi lokal hanya menyanggupi 864,6 ribu ton.

Selebihnya 3,65 juta ton harus diimpor dalam bentuk susu bubuk. Ketua Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI), Agus Warsito, menjabarkan, produksi susu segar di Tanah Air belum bisa mengimbangi kebutuhan susu nasional. Sejauh ini untuk mencukupi kebutuhan nasional, IPS masih sangat bergantung pada bahan baku impor.

“Kontribusi susu segar dari peternak rakyat saat ini mungkin tidak lebih dari 18% dari kebutuhan nasional, selebihnya terpaksa impor,” papar peternak asal Semarang, Jawa Tengah, ini kepada AGRINA, Rabu (3/1).

Masalah di Sektor Hulu

Menurut Agus, harga jual susu segar yang dipatok industri masih terlalu rendah dan kurang menguntungkan bagi peternak. Pasalnya, daya tawar peternak lemah akibat struktur pasar yang tidak sempurna. Ia mengungkap, susu segar dari peternak dihargai Rp4.000/liter – Rp4.500/liter.

Memang, ada di beberapa tempat peternak yang memperoleh Rp5.000/liter. Harga ini masih kalah saing dengan susu impor yang lebih murah Rp2.000/liter. Senada dengan Agus, peternak sapi perah asal Dusun Cikur, Desa Kalipucang, Kec. Tutur, Kab. Pasuruan, Jawa Timur, Ahmad Hofit mengutarakan, untuk susu dengan kualitas bagus dihargai Rp5.000/liter oleh koperasi.

Sementara yang kualitas biasa diberi harga Rp4.800/liter. Selama 2017, produktivitas sapi perah miliknya berada di angka 10 liter/ekor/hari. Ke depannya, “Harus optimis untuk menaikkan produktivitas menjadi 15 liter/ekor/hari,” ujar pria kelahiran 1992 ini menyemangati diri. Di sisi lain, mengutip data statistik peternakan 2016, Direktur Industri Minuman, Hasil Temabakau, dan Bahan Penyegar, Ditjen Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Abdul Rochim mengakui, populasi sapi perah di Indonesia relatif masih sedikit.

Ada sekitar 267 ribu ekor sapi laktasi dari total 533 ribu ekor sapi perah. Produktivitas sapi perah pun masih tergolong rendah, yakni 8 – 12 liter/ ekor/hari. “Idealnya produktivitas minimal adalah 15 liter/ekor/hari,” cetusnya. Rochim lanjut menuturkan, permasalahan sapi perah ada di hulu (on farm) dan di industri (off farm). Belum lagi jaminan kualitas susu yang dihasilkan. Bahan padatan susu (Total So lidTS) masih di bawah 11,3% dan kandung an bakteri (Total Plate Count- TPC) masih di atas 10 juta/mL, jauh melebihi standar yang mestinya di bawah 1 juta/mL.

Selain itu, imbuh Agus, peternakan sapi perah di Indonesia didominasi skala kecil dengan kepemilikan 2-3 ekor sapi. Mayoritas aktivitas peternak hanya sebagai sambilan dan belum berorientasi agribisnis.

Padahal, berdasarkan perhitungan skala ekonomis, peternak minimal memelihara 8-10 ekor dalam keadaan laktasi (memproduksi susu). Artinya, beternak menjadi pekerjaan utama, bukan sekadar sambilan.

Pola Kemitraan

Hofit menyatakan, kemitraan menjamin produksi susu miliknya bisa terserap oleh IPS. Saat ini, mahasiswa Jurusan Peternakan Univer si tas Islam Malang, Jawa Timur, ini, ber mitra dengan Koperasi Setia Ka wan di desanya.

Dari koperasi tersebut, susu kemudian disalurkan ke IPS. Agus berharap, pola kemitraan dengan IPS dapat melindungi peternak. Syaratnya, arah kemitraan saling menguntungkan dan saling mem butuhkan. Kemitraan memberi kepastian bagi IPS terkait volume, kualitas, dan kontinuitas pasok an susu segar dari peternak.

Sementara bagi peternak, ada jaminan susu segarnya terserap oleh IPS. Ia mencatat, dulunya pasokan SSDN dari peternak sempat mencapai angka 40% dari kebutuhan nasional, sayangnya sekarang hanya menyentuh angka 17%-18%. Saat ini sebanyak 95% SSDN sudah terserap IPS. Namun dari 60 lebih IPS, hanya 14 perusahaan yang menyerap SSDN, baik melalui integrasi pabrik dengan peternakan mandiri atau merangkul koperasi atau peternak.

Belum lama ini, Heru Prabowo, Head of Dairy Farm PT Greenfields Indo nesia meng ungkapkan, Greenfields menginisiasi program kemitraan dengan nama Greenfields Dairy Institute (GDI). Industri susu terintegrasi yang ber lokasi di Gunung kawi, Kab. Malang dan Wlingi, Blitar, ke duanya di Jawa Timur, bertujuan meningkatkan pro duktivitas serta kualitas susu yang dihasilkan peternak.

Dalam kurun waktu 10 tahun, terang Heru, program ini akan mengembangkan keterampilan 5.000 peternak muda dalam meningkatkan produktivitas mereka. “Kemitraan ini sekaligus bermaksud untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup peternak sapi perah rakyat,” harap Heru. Irmansah, Operation Manager PT Greenfields Indonesia menjabarkan, PT Greenfields Indonesia telah melakukan kemitraan di Kabupaten Malang dan Blitar dengan kurang lebih 230 kepala keluarga.

Total produksi susu segar mencapai 9.000 liter/hari, serta total populasi sapi induk dan anak mencapai 1.300 ekor.